Jalan Kebenaran Itu Hanyalah IslamKhutbah Pertama
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan hari yang mulia, yaitu hari Jumat, di tempat yang dimuliakan ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah berpesan agar kita bertakwa kepada Allah di mana pun berada, mengiringi keburukan dengan kebaikan agar kebaikan itu menghapus kesalahan, serta bergaul dengan manusia menggunakan akhlak yang baik.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sering kali manusia merasa telah berada di jalan yang benar karena memiliki kekuasaan, kebijakan, atau program yang tampak berpihak kepada rakyat. Namun dalam Islam, kebenaran sejati tidak cukup diukur dari klaim dan tampilan lahiriah. Kebenaran harus ditimbang dengan hukum Allah, serta dilihat apakah ia benar-benar menghadirkan keadilan yang hakiki.
Meskipun ada berbagai klaim tentang pembelaan terhadap keadilan dan upaya memberantas kemiskinan, kenyataannya negeri ini masih dikelola dengan sistem kapitalisme-sekuler. Salah satu bentuknya tampak dalam praktik utang ribawi yang terus membesar.
Per akhir Maret 2026, utang Indonesia disebut mencapai Rp9.920,42 triliun. Pemerintah bahkan menganggarkan Rp599,4 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Laporan ekonomi juga menyebut utang jatuh tempo pada tahun 2026 mencapai Rp833,96 triliun, angka yang disebut sebagai tembok utang atau debt wall. Besarnya utang tersebut belum mampu menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Jumlah warga miskin diperkirakan mencapai 57,2% dari total penduduk, sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan di Asia Tenggara.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di sisi lain, kebijakan negara tampak semakin bergantung pada kekuatan asing melalui berbagai perjanjian dagang dan kerja sama militer. Kebijakan seperti ini dinilai lebih menguntungkan pihak luar dan berpotensi mengganggu kedaulatan.
Sikap terhadap Palestina juga semakin dipertanyakan ketika diplomasi justru memberi ruang bagi pihak penjajah dengan dalih jaminan keamanan, sementara serangan terus terjadi. Hal ini dinilai tidak menunjukkan keberpihakan yang tegas kepada umat dan rakyat yang tertindas.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam Islam, ukuran benar dan salah harus dikembalikan kepada dua perkara utama.
Pertama, Menjadikan Allah sebagai Satu-satunya Pembuat Hukum
Allah mengecam perbuatan menjadikan manusia sebagai pembuat hukum selain-Nya:
Rasulullah menjelaskan bahwa bentuk menyembah manusia adalah ketika seseorang mengikuti aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Karena itu, kaum Muslim tidak boleh meninggalkan hukum Allah demi hukum buatan manusia, terlebih dalam perkara riba.
Kedua, Menerima dan Menjalankan Seluruh Aturan Allah
Tanda ridha kepada Allah adalah menerima dan menjalankan seluruh aturan-Nya. Penguasa berada dalam kebenaran ketika menerapkan syariah Islam secara kaffah dan tidak memberi jalan bagi pihak asing untuk menguasai kaum Muslim.
Hanya syariah Islam yang mampu menghadirkan keberkahan dan keadilan sejati. Allah berfirman:
Khutbah Kedua
Naskah Khutbah DMDI - Seruanmasjid.com

Tulis Komentar
Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.