Kembali

Khutbah Jumat - Haji Mempersatukan Umat dalam Kalimat Tauhid

Khutbah Jumat - Haji Mempersatukan Umat dalam Kalimat Tauhid

Mei 21, 2026
Khutbah Jumat - Haji Mempersatukan Umat dalam Kalimat Tauhid

Haji Mempersatukan Umat dalam Kalimat Tauhid

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Tak lama lagi jutaan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul di Tanah Suci. Mereka menggemakan kalimat tauhid dan mempersembahkan ibadah haji yang agung di hadapan Allah SWT. Pada saat itu, tidak ada kebanggaan selain menjadi tamu Allah SWT.

Rasulullah saw. bersabda:

ثَلَاثَةٌ وَفْدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

“Tamu Allah ada tiga: mujahid, haji dan peserta umrah.”

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Pelaksanaan ibadah haji memiliki banyak hikmah yang sangat penting bagi kehidupan kaum Muslim.

Pertama: Haji adalah Ibadah Ketaatan dan Pengorbanan

Ibadah haji menunjukkan tingginya ketaatan dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT. Hanya mereka yang memiliki keyakinan kuat dan tekad besar yang rela mengorbankan harta, tenaga dan waktunya demi memenuhi panggilan Allah SWT.

Sebaliknya, orang yang lemah keyakinan tidak akan terdorong untuk menunaikan ibadah haji, meskipun memiliki kelapangan rezeki dan kesehatan.

Kedua: Haji adalah Simbol Tauhid

Di dalam ibadah haji terdapat penegasan tentang keesaan Allah SWT dan penafian segala bentuk sekutu bagi-Nya. Selama pelaksanaan haji, jamaah senantiasa mengumandangkan kalimat talbiyah yang berisi seruan tauhid dan pengakuan bahwa seluruh kekuasaan hanya milik Allah SWT semata.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ

“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Ketiga: Haji Menapaktilasi Jejak Para Nabi

Ibadah haji juga menjadi perjalanan spiritual yang menapaktilasi jejak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimas salam hingga Rasulullah saw.

Kaum Muslim berkumpul di sekitar Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Mereka berdoa di Hijr Ismail dan Maqam Ibrahim, melaksanakan sa’i antara Shafa dan Marwah, serta meminum air Zamzam yang penuh keberkahan dan sejarah.

Dengan napak tilas tersebut, seharusnya bangkit kekuatan ruhiah dalam diri setiap Muslim. Tumbuh semangat ibadah, perjuangan dan pengorbanan demi agama Allah SWT.

Keempat: Haji Mengajarkan Pengendalian Diri

Ibadah haji mengajarkan kaum Muslim untuk mengendalikan amarah dan menjauhi permusuhan. Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap ramah, sabar dan saling tolong-menolong.

Di tengah cuaca panas, rasa lelah dan desakan manusia yang begitu banyak, para tamu Allah tetap diperintahkan menjaga akhlak dan perilaku.

اَلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُوْمَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ.

Kelima: Haji Mempersatukan Kaum Muslim

Ibadah haji menjadi tempat meleburnya jutaan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia tanpa memandang suku, bangsa, bahasa, warna kulit maupun kedudukan sosial.

Mereka berkumpul di Padang Arafah, Mina, melakukan thawaf dan sa’i secara bersama-sama. Semua dipersatukan oleh satu ikatan yang agung, yaitu akidah Islam.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa ibadah haji belum mampu melahirkan persatuan umat yang hakiki dan berkelanjutan? Mengapa setelah ibadah haji selesai, umat Islam masih tetap tercerai-berai?

Patut disayangkan, ibadah haji yang mengumpulkan jutaan manusia dalam satu tempat dan satu waktu belum mampu mengantarkan umat menuju persatuan yang sesungguhnya. Persatuan saat haji sering kali hanya bersifat spiritual tanpa sistem yang menyatukan mereka secara nyata.

Fenomena ini serupa dengan shalat berjamaah atau shalat Jumat. Kaum Muslim berkumpul bersama, namun setelah selesai mereka kembali terpisah tanpa adanya ikatan yang kuat.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Semestinya ibadah haji menjadi momentum besar untuk membangun kesadaran umat bahwa kaum Muslim saat ini telah tercerai-berai. Banyak persoalan umat yang seharusnya diselesaikan secara bersama dalam ikatan akidah Islam.

Ikatan akidah yang melahirkan ukhuwah Islamiyah dahulu tumbuh kuat di Madinah sebagai negara Islam pertama. Ikatan itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah melalui dakwah dan futuhat Islam.

Setiap bangsa yang memeluk Islam meninggalkan fanatisme kesukuan dan kebangsaan, lalu menggantinya dengan ukhuwah Islamiyah. Mereka menerima saudara seiman mereka meskipun berasal dari suku dan bangsa yang berbeda.

Bangsa Spanyol di Andalusia dan Cordoba, Persia, Syam hingga suku Barbar di Afrika pernah dipersatukan oleh akidah Islam bersama kaum Muslim dari Jazirah Arab.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Mari kita rekatkan kembali ukhuwah Islamiyah di tengah umat. Mari satukan hati dan buang ego kesukuan, kebangsaan dan kelompok yang selama ini memecah-belah kaum Muslim.

Mari jadikan kalimat tauhid sebagai pemersatu umat. Kita adalah umat yang satu, memiliki Tuhan yang satu yaitu Allah SWT dan berpedoman kepada satu hukum yaitu Al-Qur’an.

Dengan persatuan di bawah kalimat tauhid itulah Allah SWT akan memberikan pertolongan dan kemuliaan kepada kaum Muslim.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ كَلِمَتَكَ هِيَ الْعُلْيَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Bagikan artikel ini:

Komentar

Tulis Komentar

Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.

Memuat data...