PANGKAL MUSIBAH
ADALAH SAAT KITA BERPALING DARI HUKUM-HUKUM ALLAH
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْحَمِيدِ الْمَجِيدِ، الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيدُ، الْبَاسِطِ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ بِغَيْرِ عَدَدٍ، الَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ قَرَارًا، وَجَعَلَ السَّمَاءَ بِنَاءً، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً، فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ لِلْعِبَادِ رِزْقًا.
نَحْمَدُهُ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُذْنِبِينَ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ الْخَاشِعِينَ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا الْمُخْتَارِ، وَعَلَىٰ آلِهِ الْأَطْهَارِ، وَصَحْبِهِ الْأَخْيَارِ، وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَكُلِّ خَيْرٍ، إِمَّا فِي اللَّيْلِ وَإِمَّا فِي النَّهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ…
فِيهَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَىٰ زَادُ السَّائِرِينَ، وَنُورُ الْحَائِرِينَ، وَعِصْمَةُ الْمُؤْمِنِينَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: ١٠٢)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan seluruh jamaah Jumat. Agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT hingga akhir hayat. Dengan senantiasa taat dan menjauhi maksiat. Sebab takwa adalah penjaga nikmat. Takwa adalah penguat amanat. Takwa adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Islam sesungguhnya tidak memisahkan iman dari tanggung jawab terhadap lingkungan. Menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah yang tak boleh dilupakan.
Bahkan dalam perkara yang sering dianggap sepele oleh sebagian besar kaum Muslim, yakni menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalanan, Rasulullah ﷺ telah menegaskan:
«مَنْ أَمَاطَ أَذًى عَنِ الطَّرِيقِ كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ»
“Siapa saja yang menyingkirkan gangguan dari jalanan, maka dicatat bagi dia satu kebaikan.” (HR Ahmad).Hadis ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan—meski tampak ringan—dinilai sebagai satu amal kebaikan.
Kepedulian terhadap lingkungan juga tampak pada larangan Rasulullah ﷺ agar tidak kencing sembarangan. Beliau menegaskan:
«لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ»
“Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang tidak mengalir, kemudian mandi dari air tersebut” (HR Muslim).Ini adalah larangan tegas atas tindakan mencemari air sebagai sumber kehidupan. Ini bukan semata-mata terkait dengan keharusan bersuci sesuai aturan yang Rasulullah saw. tetapkan.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat seorang Sahabat berwudhu dengan menggunakan air secara berlebihan, beliau pun menyampaikan larangan. Sahabat tersebut lantas bertanya dengan nada heran, “Apakah ini termasuk tindakan pemborosan?" Beliau tegas memberikan jawaban, "Ya. Itu adalah tindakan pemborosan. Bahkan meskipun engkau bersuci di sungai dengan debit air yang berlimpahan.” (HR Ibnu Majah).
Sabda Rasulullah saw. ini mengajarkan kepada kita konservasi lingkungan. Bahkan ketika sumberdaya alam berkelimpahan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan, Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika melihat seseorang menebang pohon sembarangan tanpa alasan yang dibenarkan, beliau tegas menyatakan larangan, seraya mengutip ayat al-Quran:
«لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ»
“Janganlah kalian di bumi ini melakukan pengrusakan.” (Lihat: Abu Yusuf, Al-Kharwaj, hlm. 122).Beliau bahkan menetapkan kawasan ḥimā (lahan lindung) demi menjaga keberlanjutan sumberdaya bagi semua warga negara (Lihat: Abu Ubaid, Al-Amwaal, hlm. 523).
Masih terkait kepedulian terhadap alam dan lingkungan Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, saat melihat seseorang mempermainkan seekor burung, beliau menyatakan:
«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَنْ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا»
“Rasulullah ﷺ melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran permainan.” (HR al-Bukhari).Jika seekor burung saja tidak boleh disakiti tanpa alasan yang dibenarkan, maka merusak alam, apalagi secara ugal-ugalan, jelas merupakan kezaliman yang tak boleh dibiarkan.
Berkaitan dengan itu, Imam al-Ghazali rahimahullawh menegaskan bahwa menyia-nyiakan air, merusak lahan dan membunuh hewan tanpa alasan yang dibenarkan adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang telah Allah bebankan (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 4/94).
Sayangnya, kita sekarang ini justru menyaksikan dengan mata telanjang pengrusakan lingkungan secara serampangan. Di antaranya pembalakan hutan secara ugal-ugalan. Antara lain di Sumatera dan Kalimantan. Juga di sejumlah daerah lain. Seolah tanpa pengawasan. Jutaan hektar hutan dibabat secara semena-mena. Akibatnya, saat hujan lebat, banjir hebat terjadi di mana-mana. Korbannya bukan hanya ribuan manusia. Bahkan ribuan hewan pun terkena dampaknya. Mahabenar Allah yang telah berfirman dalam Kitab-Nya:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Dengan itu Allah berkehendak agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan-Nya).” (QS ar-Rum: 41).Ibnu Katsir rahimahullaah, saat menjelaskan ayat ini, mengutip Abu al-‘Aliyah, bahwa: "Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah maka sejatinya ia telah berbuat kerusakan di muka bumi ini."
Dengan demikian bisa dipastikan bahwa bencana alam yang menimpa negeri ini bukan sekadar soal cuaca ekstrem, tetapi buah dari tindakan manusia yang melakukan ragam kemaksiatan. Bahkan kejahatan. Di antaranya melakukan pembalakan hutan secara ugal-ugalan.
Dengan kata lain, pangkal bencana atau musibah yang menimpa umat hari ini adalah karena bangsa ini telah lama berpaling dari hukum-hukum Allah.
Karena itu memperbaiki kerusakan yang terjadi di negeri ini hanya bisa dilakukan dengan ketaatan total kepada Allah SWT. Caranya dengan menegakkan hukum-hukum-Nya.
Apalagi Rasulullah ﷺ telah bersabda:
إِقَامَةُ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
“Penegakan satu hukum had di muka bumi lebih baik bagi penduduknya daripada mereka diguyur hujan selama empat puluh hari.” (HR Ahmad, an-Nasa'i dan Ibnu Majah).Penegakan hukum-hukum Allah SWT oleh negara akan menutup pintu kejahatan. Termasuk kejahatan lingkungan. Sebaliknya, ketika negara membiarkan—bahkan memfasilitasi—kejahatan lingkungan atas nama ijin pengelolaan hutan, maka bencana berikutnya akan terjadi secara berulang dan tak akan bisa dihentikan.
Demikian khutbah yang singkat ini saya sampaikan. Semoga menjadi bahan renungan jamaah sekalian.
أقول قولي ini، وأستغفرُ اللهَ العظيمَ لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفورُ الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمدُ للهِ حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحبُّ ربُّنا ويرضى.
وأشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وحده لا شريكَ له، الملكُ الحقُّ المبين. وأشهدُ أن محمدًا عبدُه ورسولُه، المبعوثُ رحمةً للعالمين.
اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Krisis lingkungan pada hakikatnya adalah krisis iman. Solusinya bukan semata teknikal, tetapi spiritual: yakni kembali kepada Allah SWT dengan menegakkan syariah-Nya secara total.
Alhasil, marilah kita semua, khususnya para penguasa, untuk bersegera kembali pada syariah Islam. Ini adalah kewajiban yang tidak boleh disepelekan. Kewajiban ini meniscayakan adanya sistem pemerintahan yang menegakkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Ini sekaligus merupakan wujud ketakwaan.
Saat negeri ini diliputi oleh ketakwaan, yakinlah bahwa akan turun kepada kita aneka keberkahan. Itulah yang telah Allah SWT janjikan. Demikian sebagaimana telah difirmankan dalam al-Quran:
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ
"Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Allah pasti akan melimpahkan kepada mereka aneka keberkahan dari langit dan bumi." (QS al-A'raf: 96).Jamaah Jumat yang Allah muliakan,
Terakhir, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah SWT. Mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan doa-doa kita. Aamiin.
اللهم صلِّ وسلِّم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنat، الأحياء منهم والأموات.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْأُمَنَاءِ عَلَىٰ أَرْضِكَ، وَالْحَافِظِينَ لِنِعْمَتِكَ، وَالْقَائِمِينَ بِأَمَانَتِكَ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ بِيئَتَنَا.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَأَقِمْ لَنَا خِلَافَةً رَاشِدَةً عَلَىٰ مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُطَبِّقُ شَرْعَكَ كَافَّةً، وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلَ الْمُسْلِمِينَ، وَتَحْمِي دِمَاءَهُمْ وَأَرْضَهُمْ، وَتَحْمِلُ رِسَالَةَ الْإِسْلَامِ إِلَى الْعَالَمِينَ بِالدَّعْوَةِ وَالْجِهَادِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمين.
عباد الله، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
[]
Diterbitkan oleh Tim Media IDAROH [Ikatan Da'i Rohmatan lil 'Aalamiin]

Tulis Komentar
Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.