WAJIB MEMBEBASKAN SELURUH WILAYAH PALESTINA
Khutbah Pertama
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ نَافِعِ الْمُضُرِّ، ورَافِعِ الْقَدَرِ، ومُقَدِّرِ الْأَقْدَارِ، وَمُسَيِّرِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، اَلَّذِي جَعَلَ الْبَلَاءَ لِعِبَادِهِ ابْتِلَاءً، وَالِامْتِحَانَ لَهُمْ ارْتِقَاءً.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَفَرَّدَ بِالْمُلْكِ وَالْقُدْرَةِ وَالْقَهْرِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، دَاعِي الْخَيْرِ، وَرَحْمَةُ اللّٰهِ لِلْبَرِّيَّةِ أَجْمَعِينَ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهِيَ رَأْسُ kullah خَيْرٍ، وَسَبَبُ kullah نَجَاةٍ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ (الأحزاب: ٧٠–٧١).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Dengan takwa, umat Islam akan kuat, bersatu dan terlindung dari segala tipudaya musuh-musuhnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Gencatan senjata antara penjajah Zionis dan para pejuang Gaza kembali diumumkan. Dunia tampak lega. Seolah semua penderitaan telah usai. Namun sesungguhnya, Palestina belum merdeka.
Gencatan senjata itu hanyalah jeda di antara dua gelombang luka. Ratusan ribu ton bom telah meluluhlantakkan rumah, sekolah, masjid, bahkan rumah sakit. Lebih dari enam puluh ribu jiwa gugur. Ribuan lainnya tertimbun reruntuhan. Gaza hari ini bukan hanya penjara terbesar di dunia, melainkan ladang pembantaian terbesar dalam sejarah kemanusiaan.
Saudaraku,
Perjuangan rakyat Palestina bukan semata perjuangan kemerdekaan politik. Itu adalah perjuangan akidah. Perjuangan mempertahankan tanah suci yang Allah tetapkan sebagai bagian dari negeri kaum Muslimin.
Ketika Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab ra. menaklukkan Baitul Maqdis, beliau tidak menumpahkan darah penduduknya, melainkan menebarkan keadilan Islam. Sejak itu Palestina menjadi tanah kharaj, bagian dari wilayah kekuasaan Islam hingga berabad-abad lamanya.
Kini, setelah Zionis merampas wilayah Palestina, dunia justru menyodorkan “solusi dua negara” — sebuah nama indah bagi kezaliman yang disahkan. Maknanya jelas: melegalkan penjajahan di atas tanah Islam.
Padahal Allah ﷻ telah berfirman:
﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ﴾
“Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zalim, sehingga kalian akan disentuh oleh api neraka.” (QS Hūd [11]: 113).Saudaraku,
Betapa banyak pemimpin Muslim hari ini yang condong kepada kaum yang zalim itu. Mereka duduk bersama penjajah, bersalaman dengan tangan yang berlumuran darah, dan tersenyum di hadapan mereka yang menistakan Masjid al-Aqsha yang penuh berkah.
Mereka bersembunyi di balik alasan kemanusiaan dan diplomasi. Padahal sesungguhnya mereka telah menelantarkan umatnya sendiri. Sungguh mereka telah mengabaikan sabda Rasulullah ﷺ:
مَا مِنِ ٱمْرِئٍ يَخْذُلُ ٱمْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ، إِلَّا خَذَلَهُ ٱللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نَصْرَتَهُ
“Tidaklah seorang Muslim menelantarkan saudaranya di tempat di mana kehormatannya direndahkan, melainkan Allah akan menelantarkannya di tempat di mana ia sangat ingin ditolong.” (HR. Abū Dāwūd dan Aḥmad).Jamaah rahimakumullāh,
Gencatan senjata tidak berarti kemerdekaan telah dituai. Penyaluran bantuan tidak berarti penjajahan telah usai. Selama kekuasaan Zionis masih tegak, selama tentara kafir masih menginjakkan kaki di bumi para nabi itu, selama hukum Allah belum ditegakkan di sana — maka Palestina belum merdeka.
Solusi dua negara hanyalah jebakan. Ia bukan perdamaian, tetapi penundaan perlawanan. Ia bukan keadilan, tetapi pengkhianatan terhadap darah para syuhada yang tumpah demi membela agama Allah.
Karena itu, wahai kaum Muslim, kita wajib kembali pada pandangan Islam tentang penjajahan: bahwa mengusir penjajah adalah kewajiban jihad fi sabilillah.
Imam Ibnu Qudāmah al-Maqdisī rahimahullāh menegaskan: “Jika kaum kafir menduduki suatu negeri kaum Muslim, maka penduduk negeri itu wajib memerangi mereka. Jika mereka tidak mampu, maka kewajiban itu meluas kepada kaum Muslim di negeri-negeri sekitarnya.” (Ibnu Qudamah, Al-Mughnī, 9/228).
Begitulah pandangan Islam. Penjajahan tidak dilawan dengan perundingan, tetapi dengan jihad. Bukan dengan diplomasi, tetapi dengan kepemimpinan yang menegakkan syariah Allah secara kaaffah.
Saudaraku,
Umat ini dulu pernah memiliki perisai yang melindungi seluruh kaum Muslim: Khilāfah Islāmiyah. Di bawah kepemimpinan para khalifah, umat Islam bersatu. Satu bendera. Satu pasukan. Satu komando. Bila satu negeri Muslim diserang, maka seluruh Dunia Islam bangkit membela.
Sejarah mencatat, dulu di era Kekhalifahan Islam, ketika seorang wanita Muslimah ditawan oleh Romawi dan berteriak, “Wā Mu‘taṣimāh!”, maka Khalifah al-Mu‘taṣim Billāh menjawab dengan mengerahkan pasukan besar. Pasukan itu bukan saja berhasil membebaskan Muslimah tersebut, tetapi juga sekaligus berhasil menaklukkan benteng Amuriyyah. Itulah kekuatan umat ketika mereka memiliki kepemimpinan sejati.
Hari ini, umat Islam tercerai-berai dalam batas negara. Mereka terbelah dalam loyalitas. Mereka terlemahkan oleh sistem kufur buatan manusia. Akibatnya, tak heran bila darah umat begitu murah, kehormatan mereka diinjak, dan tanah mereka dijarah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita renungkan firman Allah ﷻ:
﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ﴾
“Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara.” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 10).Apakah pantas seorang saudara membiarkan saudaranya disembelih? Apakah pantas kita tenang di rumah, sementara saudara kita di Gaza menahan lapar dan ketakutan?
Tidak, wahai kaum Muslimin. Ketenangan kita hari ini adalah ujian. Kepedulian kita adalah bukti iman. Diamnya kita terhadap kezaliman adalah tanda lemahnya jiwa.
بارك الله لي ولكم و لسائر المسلمين. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الْقَهَّارِ، والْوَاحِدِ الْقَدِيرِ، والْمُتَفَضِّلِ عَلَى عِبَادِهِ بِالنِّعَمِ الْكِثَارِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَخْيَارِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَبْرَارِ.
Ma‘āsyiral Muslimīn rahimakumullāh,
Dalam khutbah pertama tadi telah kita renungi: Palestina belum merdeka. Penderitaan saudara-saudara kita di Gaza belum berakhir.
Kini, marilah kita renungkan, apa yang seharusnya menjadi sikap kita sebagai kaum Muslimin?
Pertama, menumbuhkan rasa peduli dan kepedihan hati terhadap nasib saudara kita. Nabi ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang Mukmin bagi Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan. Mereka saling menguatkan satu sama lain.” (HR al-Bukhārī dan Muslim).Jangan biarkan hati kita membatu oleh berita yang berulang. Jangan biarkan mata kita kering dari air mata karena terbiasa dengan darah dan reruntuhan di layar kaca. Setiap tangisan anak Gaza adalah panggilan bagi iman kita.
Kedua, memperbarui keyakinan bahwa kemenangan sejati hanya akan datang bila hukum Allah ditegakkan di muka bumi. Tidak ada keadilan sejati di bawah sistem kufur demokrasi. Tidak ada kemerdekaan hakiki tanpa ketaatan kepada Rabbul-‘Ālamīn.
Ketika para khalifah dahulu menegakkan syariah, umat Islam hidup dalam kemuliaan dan keamanan. Tidak ada penjajah yang berami menginjakkan kaki di tanah kaum Muslim. Namun ketika kepemimpinan Khilafah hilang, negeri-negeri Islam pun tercerai-berai, dan penjajah datang silih berganti.
Wahai kaum Muslimin,
Kita rindu kepada pemimpin seperti Khalifah al-Mu‘taṣim Billāh, yang bangkit menolong seorang wanita Muslimah yang dipermalukan musuh. Kita rindu pada keberanian Sultan Shalāḥuddīn al-Ayyūbī, yang menebus al-Quds dari tangan Salibis dengan darah dan air mata. Kita rindu pada keadilan Khalifah‘Umar bin al-Khaṭṭhāb, yang memuliakan setiap jiwa manusia di bawah panji Islam.
Apalagi Allah ﷻ berfirman:
﴿وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ﴾
“Allah telah berjanji kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan beramal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS an-Nūr [24]: 55).Inilah janji Allah SWT yang pasti dan tidak akan pernah Dia ingkari.
Untuk itu marilah kita berdoa agar Allah SWT memuliakan kita kembali dengan tegaknya satu kepemimpinan Islam. Kepemimpinan yang menyatukan seluruh umat, menegakkan syariah secara kaaffah serta mengemban risalah Islam dengan dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ارْفَعِ الْبَلَاءَ وَالضَّرَّاءَ عَنْ إِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينِ وَفِي غَزَّةَ خَاصَّةً، وَكُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِينًا وَمُؤَيِّدًا.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ دِمَاءَهُمْ دِمَاءَ شُهَدَاءٍ، وَصَبِّرْ قُلُوبَ أَرَامِلِهِمْ وَيَتَامَاهُمْ، وَاخْلُفْ عَلَيْهِمْ خَيْرًا مِمَّا فَاتَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَعِدْ لِلْإِسْلَامِ عِزَّتَهُ، وَلِلْمُسْلِمِينَ وَحْدَتَهُمْ، وَلِلدِّينِ نُصْرَتَهُ.
اَللّٰهُمَّ أَقِمْ فِينَا خِلَافَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تَحْكُمُ بِكِتَابِكَ، وَتُقِيمُ شَرِيعَتَكَ، وَتَجْمَعُ شَمْلَ الْمُسْلِمِينَ فِي جَمِيعِ الْأَرْضِ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهَا دِرْعًا وَحِصْنًا لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ ﷺ، تَحْمِيهَا مِنْ كَيْدِ أَعْدَائِهَا، وَتَنْصُرُ بِهَا دِينَهَا، وَتَنْشُرُ بِهَا نُورَ الْإِسْلَامِ فِي الْعَالَمِينَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ جُنْدِهَا، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالثَّبَاتَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى وَالْجَنَّةِ.
اَللّٰهُمَّ آمِينْ، اَللّٰهُمَّ آمِينْ، اَللّٰهُمَّ آمِينْ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
(Diterbitkan oleh Tim Media IDAROH [Ikatan Da'i Rohmatan lil 'Aalamiin])

Tulis Komentar
Silakan tinggalkan pesan atau pertanyaan Anda dengan sopan.